Amplop
Posted by kangheri on May 5, 2008
Saat itu sekitar pukul 18.45 WIB aku baru tiba kembali di Jakarta. Turun di Cilandak kemudian naek KOPAJA P20 arah Senen. Ada satu hal yg paling aku sukai ketika naek “kendaraan tua nan berisik” itu.. derung mesin yg kasar dan suara geleber jendela dan rangka yg sudah tidak karuan itu melambangkan kerasnya kehidupan ibukota dan semangat perjuangan yg tidak pernah berakhir. Meskipun sudah berpuluh2 tahun usianya, tp kendaraan itu tetap bekerja melaju dengan kencangnya. Renta mungkin saat ini, tp semangatnya tidak pernah padam untuk mengantarkan “tamu2 kehormatannya”.
Di setengah perjalanan tiba2 muncul 3 anak kecil, hitam kurus, rambut pirang, berpakaian nan lusuh, dengan suara yg cempreng menyanyi lagu yg tak karuan mereka mencoba menghibur penumpang-penumpang. Pemandangan yg memang mungkin sudah tidak aneh lagi di Jakarta atupun kota2 lainnya.
Sambil menyanyi ketiga anak itu membagikan amplop putih kecil kepada setiap penumpang. Di setiap amplop kecil itu tertulis:
” Kami anak2 pengamen jalanan meminta sumbangan kepada Anda untuk membantu kebutuhan makan kami sehari-hari”
Ironis memang…. Kadang ada keraguan ketika kita akan berbuat baik..apakah takut uang yg kita berikan digunakan untuk hal2 yg tidak baik, atau kah uang yg berhasil dikumpulkan mereka dirampas preman2 yg jadi komandan mereka, atau banyak alasan lainnya sehingga kita mengatakan “tidak” kepada mereka atau sekedar mengangkat tangan sebagai isarat “penolakan”. Disaat anak2 kita tidur dengan nyenyaknya dan makan dengan kenyangnya. Tapi mereka, makan mungkin sedapatnya dan tidur pun dimana saja. Apalagi untuk bicara masalah pendidikan, yg notabene nya adalah HAK mereka untuk mendapatkan pendidikan. Terlepas dari sikap acuh tak acuh mereka.
Banyak memang pendapat yg lebih memilih menolak daripada memberi. Dengan alasan takutnya mereka ketagihan, yang menyebabkan terbiasa meminta-minta, dan pada akhirnya semakin banyak orang2 jalanan. Hal itu tidak akan mengurangi permasalahan di jalanan. Atau banyak lagi alasan lainnya.
Atau apakah salah hanya memberikan seratus duaratus uang recehan kita yg mungkin dimata kita kurang berarti tp sangat berarti bagi mereka?? Uang yg ketika jatuh malas kita pungut saking tidak berharganya..dalam pandangan kita. Tp bisa jadi itu bagi mereka adalah satu butir nasi.
Kompleks memang…lantas apa yg salah? atau siapa yg salah? Kita kah yg salah? Atau cukup menyalahkan pemerintah sahaja. Karena itu adalah tanggung jawab pemerintah? dan kita tidak usah campur tangan.
Masalah yg memang harus kita pikirkan dan harus kita cari solusinya..semoga..!
This entry was posted on May 5, 2008 at 5:00 pm and is filed under Social. Tagged: Anak Jalanan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.


